Jumat, 16 Desember 2022

Khutbah# Jum'at#

Khutbah# Online# 

 

Kehidupan Rasulullah SAW ditandai dengan kedekatannya dengan para sahabatnya. Kedekatan Rasulullah dengan para sahabat bukanlah hanya sekedar kedekatan sebagaimana yang kita saksikan pada hari-hari ini. Di mana kebanyakan orang hari ini dekat manakala ada kepentingan yang dibutuhkan oleh orang tersebut. Akan tetapi kedekatan ini adalah kedekatan karena Allah. Mereka bersahabat dengan Rasulullah SAW karena Allah, bukan karena sesuatu, bukan untuk mencari sesuatu atau bukan untuk mendapatkan sesuatu sepihak saja.

Ada seorang sahabat yang kita kenal namanya dan juga cukup popular, yaitu Abu Dzar al-Giffari. Sahabat ini dikenal dekat dengan Rasulullah SAW, bahkan dikategorikan sebagai ahlus shuffah. Ada nasehat-nasehat Rasulullah SAW yang beliau sampaikan kepada Abu Dzar al-Giffari.

Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu haditsnya yang berbunyi:

 

 

Di dalam hadits Nabi ini, ada 4 pesan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada salah seorang sahabatnya Imam Abu Dzar Al-Ghiffari

Pesan yang pertama:

 

“Perbaharuilah kapalmu karena lautnya begitu dalam”. Sungguh pesan yang singkat tapi mendalam. Imam Abu Dzar disuruh oleh Rasulullah untuk memperbaharui kapalnya dan memperbaiki perahunya. Karena perahu itu akan dipergunakan untuk berlayar di lautan yang luas dan dalam. Ketika seseorang melakukan perjalanan, berlayar, tentu tujuannya ingin berlayarnya sampai kepada tempat yang dituju. Maka untuk mencapai tempat yang kita tuju, tidak mungkin itu bisa terjadi kalau kapalnya rusak atau tidak baik. Kita sebagai orang yang beriman kepada Allah, ketika amal ibadah kita ingin sampai kepada Allah, ingin diterima oleh Allah SWT, maka harus memperbaiki niat ibadah yang kita lakukan. Awali ibadah yang kita lakukan dengan tujuan yang satu, yaitu mengharap ridha Allah SWT, yang Al-Qur’an sering menyebut dengan kata ikhlas. Dan ini dijelaskan oleh Allah:

 

 

Allah menyuruh kita di dalam melaksanakan ibadah agar ibadah itu sampai kepadaNya, maka lakukan ibadah itu dengan ikhlas hanya mengharap ridha Allah SWT.

Yang kedua pesan Nabi kepada Imam Abu Dzar Al-Ghiffari:

 

“Bawalah bekal yang cukup karena sesungguhnya perjalanannya begitu jauh”. Hidup kita di alam dunia ibarat orang yang sedang menempuh satu perjalanan, kita saat ini hanya sedang singgah sesaat saja. Dan pada tahap berikutnya kita akan melakukan perjalanan yang begitu jauh, perjalanan yang akan menjadi tujuan kita yang terakhir, yaitu perjalanan kematian untuk menuju pada alam yang kekal dan abadi, yaitu akhirat. Alangkah rugi jika kita hidup di alam dunia yang sementara ini, kita hanya memperturutkan hawa nafsu, tidak mencari bekal sebanyak-banyaknya. Maka pada saat kita sampai kepada perjalanan yang terakhir yaitu akhirat, sementara bekal kita belum cukup, niscaya kita akan menyesal di hadapan Allah SWT. Kumpulkan, persiapkan, bawalah bekal sebanyak-banyaknya untuk kembali menghadap Allah SWT. Itulah makanya Allah SWT berpesan:

 

Berbekallah kamu sekalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaanmu kepada Allah SWT.

Kemudian pesan Nabi yang ketiga:

 

“Ringankan beban muatanmu, karena sesungguhnya perjalanannya naik dan terjal”. Kita sebagai hamba Allah yang beriman hidup di alam dunia ini ibarat orang membawa muatan yang berat. Kalau muatan itu tidak kita usahakan untuk dikurangi, kita akan menjadi orang yang merasa payah dan capek di tengah perjalanan. Mengurangi beban muatan artinya dosa-dosa yang kita lakukan kepada Allah baik yang besar maupun yang kecil, yang disengaja maupun yang tidak disengaja itulah sesungguhnya muatanmu yang kalau tidak kamu kurangi akan semakin berat dan akan membebanimu dalam perjalanan. Maka mengurangi beban muatan yang kamu pikul dan yang kamu bawa dengan banyak istighfar, mohon ampun dan bertaubat kepada Alah. Sehingga dengan bertaubat dan istighfar, dosa-dosa kita akan dikurangi oleh Allah sehingga muatan kita, beban kita semakin berkurang.

Kemudian pesan Nabi yang keempat:

 

“perbaikilah semua amal yang kamu kerjakan di alam dunia ini, karena semua ibadah yang kamu lakukan di dalam alam yang sementara ini sesungguhnya diawasi oleh Allah SWT”. Ibadahmu diawasi oleh Allah, pekerjaanmu diawasi oleh Allah, diammu diawasi oleh Allah, bahkan tidurmu sekalipun diawasi oleh Allah SWT. Maka berhati-hatilah, jangan menjadi orang yang terlena di dalam menjalani kehidupan dunia yang sementara ini. Apapun yang kamu lakukan, bahkan yang tersembunyi di dalam hatimupun dilihat dan diawasi oleh Allah SWT.

Dari pesan Rasulullah SAW kepada sahabat Abu Dzar al-Giffari tadi maka dapat kita simpulkan bahwa kehidupan sementara di dunia yang sedang kita jalani saat ini adalah bagian dari suatu perjalanan yang sangat panjang. Satupun dari kita saat ini tidak ada yang dapat menjamin bahwa kita akan sampai dengan selamat kepada tujuan yang ingin kita capai. Tidak sedikit yang hanyut, karam dan tenggelam dalam menempuh perjalanan yang panjang ini. Karena anginnya kencang, ombaknya besar dan karangnya tajam. Oleh karena itu, pertama, senantiasalah perbaiki kapal kehidupan kita, jangan biarkan ia rusak atau dirusak. Kedua, siapkanlah bekal sebanyak-banyaknya, karena perjalanan ini akan sangat panjang dan jauh. Semakin jauh perjalanan, semakin banyak bekal yang harus kita bawa. Ketiga, perbanyaklah istighfar, mohon ampun kepada Allah, dan segeralah bertaubat atas dosa-dosa yng pernah kita lakukan. Agar tidak menjadi beban dan perjalan hidup ini menjadi lebih ringan. Dan yang keempat, kita harus menyadari bahwa apapun yang kita lakukan dalam kehidupan ini, semuanya tidak lepas dari pantauan dan pengawasan Allah SWT yang Maha Teliti lagi Maha Mengetahui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

atOptions = { 'key' : '165ae2ef42f159dfeb6934ecad950654', 'form

SOAL JAWAB MODERASI BERAGAMA