Jumat, 16 Desember 2022

Khutbah# Jum'at#  

 

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan senantiasa memperbaiki hati kita masing-masing. Ketahuilah bahwa Allah tidak melihat bentuk dan postur tubuh serta paras wajah seseorang, tetapi yang dilihat tidak lain  adalah hati dan amalannya. Oleh karena itu, sebagaimana seseorang senantiasa membersihkan badan dan pakaian dari kotoran yang mengenainya, seharusnya dia juga memperbaiki amalan dan membersihkan hatinya

Rusaknya hati justru lebih berbahaya daripada rusaknya anggota badan. Rusaknya anggota badan hanya dirasakan saat di dunia dan akan berakhir dengan datangnya kematian. Sebaliknya, rusaknya hati akan dirasakan akibatnya oleh seseorang baik ketika di dunia apalagi saat di akhirat nanti. Begitu pula, baik tidaknya amalan anggota badan sangat dipengaruhi oleh keadaan hati seseorang. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

 

“Ketahuilah, bahwasanya pada diri seseorang ada segumpal daging. Jika dia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak, maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hati sesungguhnya diciptakan dalam keadaan lembut dan mudah tersentuh. Namun seiring perjalanan waktu, banyak hal yang membuatnya menjadi keras. Entah karena kemaksiatan atau penyebab-penyebab lainnya.

Maka jika hati sudah keras, untuk melembutkannya bukan pekerjaan ringan. Bahkan bagi sebagian orang, ia lebih berat ketimbang pekerjaan lain semisal bersedekah. Karena itu, Abdullah bin Umar mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah lebih aku cintai daripada bersedekah dengan 1000 dinar.” Mungkin maksud Abdullah bin Umar, menangis karena Allah lebih berat dibanding bersedekah 1000 dinar.

Rasulullah berlindung dari hati yang keras dan tidak khusyu’. Doa Beliau:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan,” (HR. Muslim).

 

Lima Penyebab Kerasnya Hati

Ada beberapa hal yang menjadikan kerasnya hati, sulitnya menerima petunjuk, dan sulitnya menangis karena Allah Ta’ala. Hati tidak pernah takut terhadap berbagai maksiat yang dilakukan. Peringatan dari para da’I dan khotibpun tidak menyentuh hati kita. Semua ini ada penyebabnya dan harus segera kita tinggalkan. Diantara penyebab-penyebab tersebut adalah ;

Pertama adalah; Banyak bicara. Apa hubungan lisan dan hati?. Lisan adalah duta hati. Islam mengajarkan umatnya untuk bicara yang baik. Jika tidak bisa, maka diam. Sebab keimanan seseorang terkait erat dengan sejauh mana seseorang menjaga lisannya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

Tidak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya. Dan tidak akan lurus hatinya hingga lurus lisannya. [ HR. Ahmad ].

Dalam hadis yang lain Beliau bersabda yang artinya

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata benar atau diam,” [HR. Al-Bukhari)

Imam an Nawawi ketika mensyarh hadist ini beliau berkata : “Apabila salah seorang diantara kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut benar-benar baik dan berpahala, baik membicarakan perkara yang wajib maupun sunnah silakan ia mengatakkannya. Jika belum jelas baginya, apakah perkataan tersebut baik dan berpahala atau perkataan itu tampak samar baginya antara haram, makruh dan mubah, hendaknya ia tidak mengucapkannya.

Berdasarkan hal ini, sesungguhnya perkataan yang mubah dianjurkan untuk ditinggalkan dan disunnahkan menahan diri untuk tidak mengatakannya, karena khawatir akan terjerumus ke dalam perkataan yang haram dan makruh, dan inilah yang sering terjadi

Sayangnya, masyarakat kita memiliki budaya lebih banyak bicara. Jangankan yang mubah, malah yang haram kebanyakan keluar dari mulut mereka. Mulai dari ghibah, berkata kotor, gosip, mengolok-olok dan menertawakan orang lain, dan bahkan kebohongan-kebohongan lisan dalam bermuamalah. Yang lebih parah lagi, hampir semua program hiburan di TV selalu diisi oleh hal-hal yang haram tersebut.

Tetapi memang banyak ngomong tidak mesti jelek. Seperti para da’I dan para khotib yang menjelaskan kebenaran dan mengajak pada Allah Ta’ala, maka banyaknya ngomong mereka menjadi terpuji. Maka, kita harus dapat menempatkan perkataan. Kapankah harus banyak ngomong dan kapankah kita harus diam dan menahan pembicaraan. Dengan hal tersebut, seluruh apa yang keluar dari lisan kita akan menjadi kebaikan dan tidak mendatangkan dosa.

Kedua; Banyak tertawa. Tertawa bukan hal yang dilarang. Namun jika sering dilakukan dan melampaui batas, maka menjadi tercela. Bahkan banyak tertawa akan mematikan hati. Sulitnya hidayah masuk, tidak tersentuh dengan peringatan-peringatan dari al qur’an dan as sunnah serta jauhnya ia dari Allah Ta’ala. Makanya nabi kita melarang untuk banyak tertawa sebagaimana dalam sebuah hadist;

أقِلَّ الضَّحِك فَإن كَثْرَة الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

Persedikitlah tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati

Kebiasaan Rasululah adalah tersenyum dan bukan tertawa. Dan banyak senyum adalah hal yang diperintahkan oleh agama. Bahkan senyuman seseorang kepada saudaranya dinilai sebagai sedekah. Rasulullah SAW bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

Senyummu kepada saudaramu adalah shadaqah (HR. Ahmad)

Tetapi Rasulullah SAW memperbanyak untuk menangis kepada Allah Ta’ala. Kebiasaan beliau ini juga diikuti oleh para khulafa’ ar rasyidun dan para sahabat lainnya. Beliau bersabda dalam sebuah hadist ;

والذي نَفسِي بِيَدِه لو تَعْلَمُون ما أَعلَمُ لضَحِكتُم قَلِيلا ولَبَكَيْتُم كَثيرا

Dan demi jiwaku yang ada ditangan-Nya, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.

Maka tidak ada jalan lain jika seseorang menginginkan lembutnya hati harus meninggalkan banyak tertawa dan memperbanyak menangis karena Allah Ta’ala.


Ketiga; Banyak makan. Ketika seseorang banyak makan, otomatis ia menuruti syahwat perutnya. Sementara orang yang banyak makan akan menjadikan malas dan badan menjadi gemuk serta rentan penyakit. Tidak hanya itu, otakpun menjadi bebal dan sulit diajak berfikir. Karena itu, Islam mensyari’atkan untuk banyak berpuasa baik yang wajib atau yang sunnah. Bahkan Rasulullah sallalhu alaihi wasllam bersabda ;

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أَكَلَاتٍ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidak ada wadah yang paling buruk yang diisi manusia selain perutnya, cukuplah seorang anak Adam menyantap beberapa suap makanan saja yang dapat mengokohkan tulang punggungnya. Jika memang ia harus mengisi perutnya maka hendaknya ia mem-berikan sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya. [ HR. At-Tirmidzi)

Keempat; banyak dosa. Baik dosa besar atau dosa kecil, keduanya berpengaruh negatif pada hati

Ayat yang patut jadi renungan adalah firman Allah Ta’ala:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka,” (QS. Al Muthoffifin: 14).

Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan ‘ar raan’ yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’,”(HR Tirmidzi).

Kelima; Teman yang buruk

Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan orang-orang yang shaleh. Rasulullah SAW menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang artinya:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi pecikan apinya mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap”.

Dalam kesempatan lain beliau bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung kepada agama teman dekatnya. Maka hendaklah seseorang melihat siapa yang dijadikan teman dekatnya,” (HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

atOptions = { 'key' : '165ae2ef42f159dfeb6934ecad950654', 'form

SOAL JAWAB MODERASI BERAGAMA